Kemaruk : Sumber utama krisis pasar modal
Money November 22nd, 2008
MALAPETAKA itu bermula dari New York Stock Exchange, pasar modal di Amerika yang paling besar dan berpengaruh. Hari itu, Senin pekan lalu, Dowjones Industrial Average Index menunjukkan pembantaian harga saham-saham. Indeks yang mewakili puluhan perusahaan terkemuka itu turun 4,41% menjadi 10.917,51 titik. Seperti dikomando, para pialang di seluruh pasar modal dunia serak berteriak-teriak, “Jual… jual… jual.”
Ya, siapa yang tidak ngeri bila ternyata yang rontok itu adalah saham perusahaan-perusahaan raksasa. Saham IMB, Kodak, dan Westinghouse turun harganya. Beberapa bank dan perusahaan investasi langsung “menjual diri”. Salah satu di antaranya adalah Morgan Stanley, satu dari dua bank investasi yang masih bertahan sampai saat ini. Perusahaan ini sejak pekan lalu sudah ditawarkan ke sebuah bank di Cina.
Betapa pun tangguhnya perusahaan-perusahaan spesialis semacam Morgan Stanley ataupun Goldman Sachs, tidak akan sanggup menghadapi malapetaka itu. Hanya dalam hitungan hari, perusahaan-perusahaan itu ditaksir menanggung kerugian ratusan miliar dolar, Situasi runyam ini memaksa Presiden Amerika George W, Bush angkat bicara. Tapi kepanikan tak bisa dibendung dengan satu dua kalimat. Pasar-pasar modal, dari Tokyo, Korea, London, Paris, Sydney, Hong Kong, hingga Singapura, meledak.
Sementara itu muncul berbagai spekulasi mengenai sebab-musabab malapetaka belakangan ini. Ada analisis yang mempermasalahkan para investor sendiri. Sejak dua-tiga tahun lalu mereka sangat bergairah memborong surat-surat berharga yang memberikan keuntungan besar, walaupun berisiko tinggi. Salah satunya adalah di sub-prime mortgage, surat utang untuk membiayai perumahan, Ketika tahun lalu sektor perumahan di Amerika hancur, pemegang sub-prime mortgage pun kena getahnya.
Sejumlah perusahaan investasi, seperti Citigroup, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Merrill Lynch, dan Lehman Brothers, mencatat rugi besar akibat terlilit sub-prime mortgage.
Maret lalu, Bear Stearns tak kuasa lagi menanggung kerugian itu sehingga terpaksa ditutup. Mungkin setelah melihat bank investasi nomor lima terbesar di Amerika itu bangkrut, penjualan saham mulai terjadi, Makin hari makin cepat,
Bank-bank yang terlilit sub-prime mortgage tak bisa berkutik. Tak ada lagi likuiditas. Lehman Brothers pun bangkrut, mengikuti jejak Bear Stearns. Sementara yang lain agak beruntung karena mendapat suntikan dana dari bank sentral Amerika (The Fed). Tutupnya Lehman ini diperkirakan akan memakan banyak korban. Di Jepang, misalnya, 50 bank dan tujuh perusahaan asuransi bakal menanggung rugi US$ 2,4 miliar akibat bangkrutnya Lehman Brothers. Di Indonesia, memang baru Manulife Indonesia yang secara terang-terangan mengumumkan terkena dampak penutupan Lehman Brothers.
Ada yang berkesimpulan, penutupan Lehman Brothers itu bersumber dari keserakahan Richard Severin Fuld Jr. Orang nomor satu di Lehman Brothers Holdings Inc. sejak 1993 itu dianggap ceroboh dengan menempatkan dana US$ 85 miliar pada sub-prime mortgage. Padahal perusahaan yang berdiri sejak 1850 itu hanya memiliki ekuitas USS 22,5 miliar.
Bukan hanya spekulan seperti Fuld yang dipersalahkan, komputer dan teknologi pun tak luput dari caci-an. Mesin-mesin itu dianggap telah menjauhkan manusia dari realitas pasar. Bahkan ada yang yakin, kejadian sekarang ini merupakan dosa komputer. Menurut mereka, sebelum komputer diizinkan masuk ke pasar modal, dalam keadaan krisis pun dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk merontokkan saham sampai 200 poin. Eh, sekarang, nilai saham bisa jatuh ratusan poin hanya dalam hitungan menit.
Betulkah komputer biang kekacauan di pasar modal? Tak tau ya. Tapi, seperti biasa, dalam keadaan tertekan orang selalu mencari pembenaran, karena biang kekacauan itu sebenarnya ada di dalam diri manusia serakah. Ya. Karena ingin cepat kaya, manusia sering kali gelap mata, tidak hati-hati, bahkan nekat.
Sumber tulisan : Vitanouva.net
No related posts.




November 24th, 2008 at 11:24 AM
Nice shot, Bro!