
We spend January 1 walking through our lives, room by room, drawing up a list of work to be done, cracks to be patched. Maybe this year, to balance the list, we ought to walk through the rooms of our lives… not looking for flaws, but for potential.
Happy New Year 2011
Bila ingin menyaksikan komunitas Tionghoa yang bersopan-santun gaya Islam, datanglah ke Kampung Pekojan di sisi kawasan Glodok, Jakarta Barat. Masyarakat Tionghoa asli kampung Pekojan memiliki tradisi bersalaman ala Muslim sebagai dampak budaya yang dibawa warga Arab dan India selama berabad-abad.
Siang itu di warung mi ayam milik Ah Lim di sebelah Masjid Annawier Pekojan, orang yang datang Tionghoa, Arab atau Melayu silih berganti dan selalu memberi salam sebelum duduk. Ah Sen dan beberapa orang Tionghoa yang datang belakangan, selalu berjabatan kemudian menyentuhkan ujung jemari ke dada mereka bak seorang Muslim.
Cuma di kampung sini Anda ketemu orang Tionghoa yang meski bukan Muslim, tetapi selalu bersalaman setiap kali bertemu. Semua rukun di sini sejak zaman dulu. Kalau Anda melihat di sekitar sini ada rumah Tionghoa dengan pagar tinggi dan tertutup rapat pasti bukan Tionghoa Pekojan. Kalau Tionghoa asli sini sudah biasa, susah senang bersama-sama. Saya waktu kecil biasa tidur di rumah Ah Lim dan kami main bola sama-sama, kata Faisal Al Amrie warga asli Pekojan keturunan ke-19 Arab Hadramaut (Yaman Selatan).
Dia pun mengaku mengenal percakapan sederhana dalam bahasa Arab Suwayau-suwayau katanya sambil tertawa yang artinya, sedikit-sedikit paham berbahasa Arab. Sebaliknya, Faisal juga mengaku sedikit mengerti Mandarin untuk percakapan sederhana. Sehari-hari pun mereka terbiasa menggunakan kata ana (untuk menyebut dirinya) atau ente (untuk lawan bicaranya).
Demikian pula pada saat Lebaran, Faisal menjelaskan, para tetangga Tionghoa biasa bersilaturahmi ke rumahnya. Sedangkan waktu Sinjia (Tahun Baru Tionghoa dalam dialek Hokkian Red), Faisal menyampaikan Kiong Hie (Gong Xi) sebagai ucapan selamat kepada teman-teman Tionghoa.
Perkawinan
Masyarakat Kampung Pekojan tidak tahu apa itu pluralisme atau radikalisme. Yang jelas selama ini tidak pernah ada keributan atau berprasangka di antara mereka sebagai sesama manusia biasa ciptaan Sang Khalik. Di tengah perkampungan dan bangunan tua yang tercatat berasal dari abad ke-17 masih tertinggal tradisi saling menghargai yang tak lenyap di telan zaman.
Tradisi lain yang terpelihara baik adalah soal perkawinan dan kematian. Faisal mengatakan, kalau ada warga yang meninggal, semua berkumpul. Yang bertakziah tidak pandang bulu. Arab, Tionghoa, Melayu semua kumpul, kata Faisal.
Hukumnya wajib untuk membantu tetangga yang kesusahan di Kampung Pekojan. Lebih unik lagi, kalau urusan perkawinan, semua saling urun modal perkawinan.
Faisal menjelaskan, kalau ada calon mempelai pria yang kesulitan uang untuk modal perkawinan, biasanya yang bersangkutan akan bercerita kepada sahabatnya entah sesama Arab atau Tionghoa. Selanjutnya, kawan tersebut bertindak sebagai perantara dan mengutarakan kesulitan si calon mempelai seraya mengumpulkan dana dari kawan-kawannya yang lain.
Dari aksi solidaritas tersebut sesama warga Pekojan mengupayakan bagaimanapun caranya si calon mempelai pria harus bisa punya modal yang dibutuhkan untuk menikah, kata Faisal.
Berbagi hidup juga dilakukan di saat musim kemarau. Biasanya jika warga kesulitan air, mereka mengambil air di Musola Azzawiyah, Pekojan. Arab, Tionghoa, Muslim ataupun bukan Muslim antre mengambil air di tempat itu.
Petang pun beranjak malam. Suara azan terdengar dan warga Arab Pekojan pun menunaikan ibadah Shalat Magrib. Kesibukan suasana perdagangan di Pekojan pun terhenti dan hari esok akan kembali menjalin keakraban penghuninya.
Kampung Pekojan bukan hanya situs dan komunitas peninggalan sejarah. Pesan kerukunan di tengah kepastian merupakan hal nyata bagi komunitas Kampung Pekojan.
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0508/10/metro/1955335.htm
Tulisan ini gak ada hubungannya dengan iklan sebuah produk rokok, ataupun himbauan agar seseorang perlu merokok. Saya sama sekali tidak dibayar dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Gudang Garam Merah
Berawal saat 2 hari yang lalu, saya berangkat menuju Rangkasbitung. Kali ini saya berkesempatan untuk naik kereta api ekonomi, berangkat pada pukul 7.50 WIB, dari stasiun Jakarta Kota.
Awalnya kereta begitu lenggang, dimulai di stasiun Angke, satu persatu penumpang baru mulai memadati Kereta Api tersebut. Seperti biasa, pedagang asongan khas kereta api seperti pedagang rokok, air mineral, tahu, sampai pengamen pun silih berganti berdatangan.
Pada awalnya, saya duduk hanya sendiri, dari 4 bangku berhadapan yang saat itu ada. Persis ketika berhenti di stasiun Duri, 1 orang penumpang duduk disebelah saya. Tidak lama kemudian di stasiun tanah abang dan stasiun kebayoran lama, satu persatu ada 2 orang penumpang lagi yang duduk dihadapan saya. 1 orang disebelah saya adalah seorang kakek tapi masih terlihat cukup segar, dihadapan saya persis adalah seorang pria muda, dan satu lagi, pria paruh baya yang sepertinya di berprofesi sebagai pedagang asongan, ini terlihat dari barang bawaannya.
Awalnya tidak ada yang menarik, semua terdiam, termasuk saya, karena memang kami tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Kira-kira tepat setelah selesai berhenti di statisun serpong, bapak-bapak di samping saya, mengeluarkan sebtang rokok gudang garam merah dan tanpa ragu langsung menghisapnya…beberapa saat kemudian 2 orang di depan saya pun satu persatu juga mengeluarkan jenis rokok yang sama.
Awalnya saya sangat terganggu dengan asap rokok dari ketiga orang ini, ditambah lagi, saat ini saya memang sedang tidak merokok karena sedang sedikit sakit. Dari pada kesal sendirian, saya mencoba untuk tidur sambil menutup hidung, sambil menggerutu dalam hati.
Tapi, tiba-tiba sambil merem saya mulai mendengar suara dari seorang pria paruh baya disamping saya, dia mencoba menawarkan pada saya sebatang rokok, mungkin karena dia tahu kalau saya sedang bosan, tapi sayangnya saya tidak bisa menerima tawaran pria tersebut. Tidak lama kemudian, pria didepan saya pun ikut bicara, pada bapak tua disamping saya, tidak lama pun saya benar-benar tertidur. Begitu saya terbangun saat mendengar klakson sebuah kereta api dari arah berlawanan, saya agak sedikit terkejut, keadaan yang semuala kaku, kini sudah sangat mencair, akrab, dan menyenangkan. Ketiga orang didepan saya yang semula tidak saling mengenal satu dengan yang lain, tiba-tiba sudah seperti rekan lama yang kini berjumpa kembali.
Meski akhirnya saya pun ikut cair terbawa suasana, ada sedikit pertanyaan di kepala saya, apakah memang ini terjadi begitu saja? apakah memang mereka sebenarnya saling mengenal? (maklum, setahu saya, kebanyakan penumpang kereta api ekonomi adalah pelanggan tetap, dan kebanyakan mereka saling mengenal karena memang sering bertemu). Atau apakah mereka memang nanti turun ditempat yang sama? sehingga wajar kalau mereka akhirnya akrab.
Pertanyaan saya diatas semuanya salah, satu persatu ketiga orang tersebut, tuturn di stasiun yang berbeda. Dan mereka tidak pernah saling bertemu, karena 1 pria didepan saya baru pertama kali naik kereta, dan ia ingin menjenguk keluaraganya yang sakit saat ini. Bapak yang ada disamping saya, biasanya ia pulang kampung naik Bis, dan jarang sekali naik kereta api, sehingga kemungkinan kecil mereka pernah bertemu sebelumnya.
Kepudian apakah ini terjadi begitu saja? kelihatannya tidak, karena sangat jelas, sepertinya mereka bukan tipikal orang-orang yang mudah berbicara begitu saja dengan orang lain yang tidak mereka kenal.
Nah, satu lagi kemungkinan yang mungkin satu-satunya jawaban…mereka memiliki kesamaan, mereka menghisap Gudang Garam Merah. Rokok kretek yang dikenal hanya dihisap masyarakat kalangan bawah, seperti mereka dan mungkin (meski tidak ikut menghisap) saya.
Rasanya acungan 10 jempol patut diberikan kepada super star dunia maya Joko Susilo. Bukan apa-apa, saya baru sadar begitu menggunakan theme baru ini, yang secara otomatis mengenerate list postingan populer berdasarkan banyaknya komentar yang diterima oleh suatu postingan di blog ini, ternyata mengangkat nama ini menjadi yang teratas. Peringkat teratas tersebut mengarah ke tulisan saya yang mengangkat banyaknya pendapat miris di dunia maya mengenai Joko Susilo, pemilik usaha dari formula bisnis yang tersohor.
Mungkin kali ini, saya harus mengakui kalau Joko Susilo ternyata bukan hanya menjadi yang teratas di dunia bisnis internet tipu-tipu tetapi juga menjadi yang teratas di blog saya sendiri
Setelah sukses di tahun pertama, kali ini Screamfestindo kembali hadir dengan nama baru yaitu INAFFF (Indonesia International Fantastic Film Festival). Tidak ada alasan khusus mengapa nama tersebut dirubah selain untuk lebih dapat memuaskan berbagai macam penggemar film genre ini. INAFFF 08 hadir sebagai wadah yang lebih luas lagi, bukan hanya khusus untuk mereka yang menggilai film horror saja, tapi juga sebagai tempat para pecinta film anime, scifi dan fantasy dapat hadir dan menjadi bagian didalamnya.
-
Articles
- November 2011
- October 2011
- July 2011
- June 2011
- May 2011
- April 2011
- February 2011
- January 2011
- November 2010
- October 2010
- September 2010
- March 2010
- December 2009
- November 2009
- October 2009
- September 2009
- July 2009
- June 2009
- May 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- March 2008
- February 2008
- November 2007
- October 2007
- September 2006
- August 2006
- June 2006
- March 2005
-
Calendar
May 2012 M T W T F S S « Nov 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 -
Meta





