Senyum sapa Gudang Garam Merah

Tagged with: , ,

gudang garam merah

Tulisan ini gak ada hubungannya dengan iklan sebuah produk rokok, ataupun himbauan agar seseorang perlu merokok. Saya sama sekali tidak dibayar dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Gudang Garam Merah :)

Berawal saat 2 hari yang lalu, saya berangkat menuju Rangkasbitung. Kali ini saya berkesempatan untuk naik kereta api ekonomi, berangkat pada pukul 7.50 WIB, dari stasiun Jakarta Kota.

Awalnya kereta begitu lenggang, dimulai di stasiun Angke, satu persatu penumpang baru mulai memadati Kereta Api tersebut. Seperti biasa, pedagang asongan khas kereta api seperti pedagang rokok, air mineral, tahu, sampai pengamen pun silih berganti berdatangan.

Pada awalnya, saya duduk hanya sendiri, dari 4 bangku berhadapan yang saat itu ada. Persis ketika berhenti di stasiun Duri, 1 orang penumpang duduk disebelah saya. Tidak lama kemudian di stasiun tanah abang dan stasiun kebayoran lama, satu persatu ada 2 orang penumpang lagi yang duduk dihadapan saya. 1 orang disebelah saya adalah seorang kakek tapi masih terlihat cukup segar, dihadapan saya persis adalah seorang pria muda, dan satu lagi, pria paruh baya yang sepertinya di berprofesi sebagai pedagang asongan, ini terlihat dari barang bawaannya.

Awalnya tidak ada yang menarik, semua terdiam, termasuk saya, karena memang kami tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Kira-kira tepat setelah selesai berhenti di statisun serpong, bapak-bapak di samping saya, mengeluarkan sebtang rokok gudang garam merah dan tanpa ragu langsung menghisapnya…beberapa saat kemudian 2 orang di depan saya pun satu persatu juga mengeluarkan jenis rokok yang sama.

Awalnya saya sangat terganggu dengan asap rokok dari ketiga orang ini, ditambah lagi, saat ini saya memang sedang tidak merokok karena sedang sedikit sakit. Dari pada kesal sendirian, saya mencoba untuk tidur sambil menutup hidung, sambil menggerutu dalam hati.

Tapi, tiba-tiba sambil merem saya mulai mendengar suara dari seorang pria paruh baya disamping saya, dia mencoba menawarkan pada saya sebatang rokok, mungkin karena dia tahu kalau saya sedang bosan, tapi sayangnya saya tidak bisa menerima tawaran pria tersebut. Tidak lama kemudian, pria didepan saya pun ikut bicara, pada bapak tua disamping saya, tidak lama pun saya benar-benar tertidur. Begitu saya terbangun saat mendengar klakson sebuah kereta api dari arah berlawanan, saya agak sedikit terkejut, keadaan yang semuala kaku, kini sudah sangat mencair, akrab, dan menyenangkan. Ketiga orang didepan saya yang semula tidak saling mengenal satu dengan yang lain, tiba-tiba sudah seperti rekan lama yang kini berjumpa kembali.

Meski akhirnya saya pun ikut cair terbawa suasana, ada sedikit pertanyaan di kepala saya, apakah memang ini terjadi begitu saja? apakah memang mereka sebenarnya saling mengenal? (maklum, setahu saya, kebanyakan penumpang kereta api ekonomi adalah pelanggan tetap, dan kebanyakan mereka saling mengenal karena memang sering bertemu). Atau apakah mereka memang nanti turun ditempat yang sama? sehingga wajar kalau mereka akhirnya akrab.

Pertanyaan saya diatas semuanya salah, satu persatu ketiga orang tersebut, tuturn di stasiun yang berbeda. Dan mereka tidak pernah saling bertemu, karena 1 pria didepan saya baru pertama kali naik kereta, dan ia ingin menjenguk keluaraganya yang sakit saat ini. Bapak yang ada disamping saya, biasanya ia pulang kampung naik Bis, dan jarang sekali naik kereta api, sehingga kemungkinan kecil mereka pernah bertemu sebelumnya.

Kepudian apakah ini terjadi begitu saja? kelihatannya tidak, karena sangat jelas, sepertinya mereka bukan tipikal orang-orang yang mudah berbicara begitu saja dengan orang lain yang tidak mereka kenal.

Nah, satu lagi kemungkinan yang mungkin satu-satunya jawaban…mereka memiliki kesamaan, mereka menghisap Gudang Garam Merah. Rokok kretek yang dikenal hanya dihisap masyarakat kalangan bawah, seperti mereka dan mungkin (meski tidak ikut menghisap) saya.

Related posts:

  1. Tentang sebuah kata bernama Etika Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan sebuah perumpamaan yang isinya begini… Di...
  2. anggur merah gak hanya buat diminum loh…!!! sensasi red wine tidak hany pada cita rasanya saja, namun...

Jika Anda menyukai artikel di blog ini, silahkan isikan alamat email Anda untuk berlangganan artikel dari HarisMedia Dot Com secara gratis melalui email

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

2 Comments to “Senyum sapa Gudang Garam Merah”

  1. Nyubi 7 November 2009 at 3:50 AM #

    jadi kesamaanya hanya di rokok! menarik juga :)

    • harisx 9 November 2009 at 2:05 PM #

      begitulah…sapa bilang rokok selalu merugikan :D


Leave a Reply