Belakangan terdengar isu daging sampah menyebar di banyak pasar diberbagai daerah, tak hanya daerah, diberbagai pasar di Jakarta-pun (yang notabene jakarta sebagai kota terbesar di indonesia) juga telah terbukti ditemukan daging sampah. Daging sampah yang seharusnya telah dibuang atau dijadikan makanan hewan* dijual kembali dengan harga yang jauh lebih murah dari daging yang masih segar.
Padahal, belum juga hilang dari ingatan kita berbagai isu-isu seputar daging yang juga telah lebih dulu merebak. Dari mulai isu daging tikus yang kerap dijadikan bahan pokok pengganti daging untuk membuat bakso, sampai isu daging gelonggongan yang dilakukan agar daging yang dijual jadi terlihat besar dan menggairahkan.
Inti dari permasalahan sebenarnya tak bisa kita telak lagi, bahwa faktor ekonomi telah menjadi satu-satunya pemicu kenapa orang sampai harus memutar otak bahkan sampai berbuat curang. Kondisi perekonomian yang memprihatinkan membuat daya beli masayarakat indonesia menjadi terpuruk. Jangankan untuk membeli daging, untuk sekedar membeli rokok sebatang saja harus terpaksa ngutang. Kondisi seperti ini juga pada akhirnya mendorong produsen/penjual-pun terpaksa harus menurunkan harga jual, karena harga daging yang masih segar sangat tidak memungkinkan untuk diturunkan…yaaa akhirnya berbagai cara pun ditempuh, dari daging kurus dibuat gemuk, sampai bekas dibuat baru
